Opini

“Suara Rakyat di Persimpangan Jalan”

39

Oleh Redaksi :

Di warung kopi, di pasar, hingga di grup WhatsApp RT, obrolan warga selalu bermuara pada satu hal: nasib rakyat kecil. Harga kebutuhan pokok melambung, lapangan kerja makin sempit, sementara pejabat sibuk berdebat kursi dan posisi.

Pertanyaannya sederhana: untuk siapa sebenarnya kekuasaan itu dijalankan?

Rakyat menjerit, tapi telinga penguasa seolah tuli. Jalan rusak dibiarkan, sekolah kekurangan guru, sementara baliho wajah-wajah tersenyum penuh janji masih berdiri kokoh di tiap tikungan.

Apakah suara rakyat hanya berharga ketika musim pemilu tiba? Apakah demokrasi kita hanya sebatas pesta lima tahunan tanpa arah?

Tabloid Suara Cikas berpandangan, saatnya warga kembali merebut ruang bicara. Jangan biarkan politik jadi panggung elit semata. Jangan biarkan suara kita hanya menjadi angka statistik.

Kita perlu menuntut transparansi, keberpihakan, dan tindakan nyata. Pemimpin sejati bukan mereka yang paling keras berorasi, melainkan mereka yang paling tulus melayani.

Karena itu, Suara Cikas mengajak:
Mari kritis, tapi tetap optimis.
Mari lantang bersuara, tapi tetap santun.
Mari jaga persatuan, sambil terus mendesak perubahan.

Suara rakyat jangan hanya jadi gema. Suara rakyat harus jadi arah.

Exit mobile version