Pendidikan

5.018 Anak di Makassar Gagal Masuk SMP Negeri

123

SMP Swasta Jadi Pilihan Tepat

Sorot Media-Makassar, 13/07/2025

Ribuan calon siswa sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Makassar harus menelan pil pahit. Data terbaru menunjukkan bahwa setidaknya 5.018 anak tidak tertampung di SMP negeri dalam Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ini. Angka ini memunculkan pertanyaan besar mengenai ketersediaan fasilitas pendidikan negeri dan potensi peran SMP swasta sebagai solusi.

Situasi ini diperparah dengan jumlah lulusan sekolah dasar (SD) yang terus meningkat setiap tahunnya, sementara kapasitas SMP negeri relatif stagnan. Orang tua dan calon siswa yang tidak lolos seleksi SPMB SMP negeri kini dihadapkan pada pilihan sulit mencari alternatif di SMP swasta atau menunda pendidikan.

“Anak saya sudah mencoba di beberapa SMP negeri, tapi kuota selalu penuh,” keluh Ibu Ani, salah satu orang tua siswa di Makassar. “Sekarang kami bingung, apakah harus mendaftarkan ke sekolah swasta dengan biaya yang tentu tidak sedikit, atau bagaimana.”

Pertanyaan serupa selalu diucapkan para orang tua ketika menyebut sekolah swasta yang mengaku dirinya berekonomi lemah.

Pembayaran yang mahal, tetapi kualitas dan mutu pendidikan yang masih diragukan oleh beberapa kalangan masyarakat. Terima atau tidak itulah kenyataan yang dapat dilihat secara kasat mata. Masih banyak sekolah swasta yang dikelola oleh lembaga pendidikan dibawah naungan yayasan, enggan melakukan perubahan dalam sistem pendidikan mereka. Peningkatan mutu dan kualitas yang kurang, sehingga tak heran jika para orang tua berpikir untuk memasukkan anak-anak mereka di sekolah swasta.

Kapasitas Terbatas dan Persaingan Ketat

Dinas Pendidikan Kota Makassar,  mengakui adanya kesenjangan antara jumlah lulusan SD dan daya tampung SMP negeri. Kepala Dinas Pendidikan Makassar,Achi  Soleman, S.STP., M.Si., menjelaskan bahwa terbatasnya lahan dan anggaran menjadi kendala utama dalam pembangunan unit sekolah baru atau penambahan rombongan belajar.

“Kami memahami kekecewaan orang tua. Namun, kapasitas kami memang terbatas. Sistem domisili, afirmasi dan jalur prestasi telah kami terapkan untuk memastikan pemerataan, tetapi tetap saja belum bisa menampung semua,” ujarnya.

Persaingan ketat untuk masuk SMP negeri juga semakin terasa dengan penerapan sistem domisili  yang memprioritaskan calon siswa dari wilayah terdekat. Meskipun bertujuan baik untuk pemerataan, sistem ini terkadang menyulitkan siswa yang berada di perbatasan zona atau di daerah dengan sedikit pilihan SMP negeri.

SMP Swasta : Solusi Tepat

Di tengah kondisi ini, SMP swasta muncul sebagai alternatif yang paling memungkinkan. Banyak SMP swasta di Makassar menawarkan beragam program unggulan, fasilitas yang lengkap, dan kurikulum yang bervariasi. Namun, biaya pendidikan yang cenderung lebih tinggi menjadi pertimbangan utama bagi sebagian besar keluarga.

“Tentu saja kami berharap anak kami bisa sekolah di negeri karena gratis,” ungkap Bapak Budi, ayah dari seorang calon siswa. “Tapi kalau memang tidak ada pilihan lain, kami terpaksa harus mempertimbangkan swasta, meskipun harus putar otak untuk biayanya.”ungkapnya.

Beberapa pihak berpendapat bahwa SMP swasta dapat menjadi solusi yang tepat untuk mengatasi defisit daya tampung SMP Negeri. Dengan dukungan dan pengawasan dari pemerintah, SMP swasta dapat membantu menyediakan akses pendidikan yang berkualitas bagi semua anak. Namun, penting juga untuk memastikan bahwa kualitas pendidikan di SMP swasta tetap terjamin dan tidak membebani masyarakat secara berlebihan.

Pemerintah Kota Makassar diharapkan dapat merumuskan kebijakan jangka panjang untuk mengatasi masalah daya tampung sekolah. Peningkatan kapasitas SMP negeri, baik melalui pembangunan baru maupun penambahan ruang kelas, serta kerja sama yang lebih erat dengan pihak SMP swasta, menjadi langkah krusial demi memastikan setiap anak di Makassar mendapatkan haknya untuk mengenyam pendidikan.

Berkaitan dengan biaya di SMP Swasta,  yang selalu menjadi momok orang tua yang mahal di sekolah swasta sontak dijawab oleh beberapa kepala SMP Swasta, dimana diamini tidak semua sekolah swasta itu berbayar. malah ada yang menggratiskan pembayaran mulai dari masa pendaftaran. Ada juga yang mengatakan kalau sekolah dimana dia menjadi pimpinan mengatakan pembayarannya separuh, artinya ada sistem subsidi silang.

Banyaknya jumlah lulusan SD yang tidak tertampung di SMP Negeri, sehingga Walikota Makassar, Munafri Arifuddin, mengharapkan kepada seluruh camat dan lurah untuk ikut serta mengatasi persoalan siswa yang tidak tertampung di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri.

Perihal ini disampaikan dalam rapat koordinasi seluruh camat dan lurah, dalam arahannya meminta agar seluruh camat dan lurah bersama-sama untuk memikir jalan keluar dari ribuan anak yang tidak tertampung di SMP negeri.

Walikota Makassar, memberi instruksi tiga langkah konkret yang bisa dilakukan di tingkat kecamatan dan kelurahan, yaitu:

  1. Mengidentifikasi siswa yang belum tertampung dan memfasilitasi mereka untuk tetap bisa mengakses pendidikan.
  2. Mengoptimalkan sumber daya lokal yang ada untuk mendukung solusi pendidikan alternatif.
  3. Membangun kolaborasi dengan masyarakat demi menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif.

Dari tiga instruksi ini, merupakan suatu isyarat, jika sekolah swasta bisa menjadi solusi bagi ribuan anak yang tidak tertampung di SMP negeri. Dimana siswa yang tidak tertampung di SMP Negeri dapat dialihkan ke SMP Swasta yang jumlahnya tidak sedikit di kota ini. Tetapi semuanya kembali kepada masyarakat, dimana masyarakat tidak lagi memiliki stigma bahwa SMP Swasta berbayar dan dijadikan tempat pelarian terakhir bagi anak-anak mereka.

Dan SMP – SMP Swasta mampu menepis statement masyarakat, jika SMP Swasta itu mahal dan tidak memiliki sarana dan prasarana, minimnya kegiatan peningkatan mutu bagi anak.

Artinya, SMP Swasta mau terbuka dengan program dan kegiatan ekstrakurikuler mereka, bukan hanya sebagai slogan di brosur atau spanduk yang dipasang di sudut-sudut kota untuk menarik minat orang tua untuk menyekolahkan anak mereka di SMP Swasta. (Ridaksi)

Exit mobile version